Diakui atau tidak, demam Bitcoin sedang melanda dunia. Cryptocurrency yang bersifat terdesentralisasi dan tidak diatur atau dijamin oleh otoritas pusat ini ramai digunakan untuk bertransaksi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Meski memiliki sejumlah kelebihan dibanding mata uang "konvensional", Bitcoin bukannya tidak memiliki risiko. Ada beberapa ancaman yang mengintai para pengguna uang virtual ini. Salah satunya berkaitan dengan persoalan penyimpanan Bitcoin.
Untuk bisa membelanjakan Bitcoin, pemilik membutuhkan baris kode khusus bernama "private key". Baris kode ini disimpan di dalam "wallet" atau dompet digital. Ketika akan dipakai, barulah pemilik mengakses kode tersebut dan menggunakannya untuk transaksi.
Private key bisa disimpan secara lokal di komputer maupun dicetak dengan printer. Persoalan muncul karena baris kode ini bisa dicuri atau hilang. Apabila itu terjadi, maka semua Bitcoin yang terasosiasi dengan private key bersangkutan akan raib selamanya dari tangan pemilik.
Kasus seperti ini beberapa terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Misalnya peristiwa yang menimpa Inputs.io. Penyedia wallet online tersebut November lalu dibobol hacker sehingga mengakibatkan para "nasabah" kehilangan Bitcoin senilai 1,2 juta dollar AS.
Private key yang disimpan dalam "Cold Storage" (komputer atau media penyimpanan yang tak terkoneksi ke internet) pun memiliki kerentanan tersendiri. Seorang pria bernama James Howells menyimpan 7.500 Bitcoin dalam wallet di dalam hard disk komputernya. Ketika hard disk tersebut hilang, Howells terpaksa merelakan uang virtual senilai jutaan dollar tersebut.
Untuk mengurangi risiko itu, CEO Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan sedikit berbagi tips.
Pengelola salah satu bursa Bitcoin terbesar di Indonesia ini mengungkapkan bahwa dia membikin print-out dompet Bitcoin dalam bentuk tercetak. "Lalu, agar aman, cetakan tersebut kami simpan dalam safety deposit box," kata Oscar ketika ditemui usai acara gathering Indonesia Bitcoin Community di Jakarta, Sabtu (18/1/2014) kemarin.
Untuk melindungi wallet online, password yang kuat bisa digunakan. Dapat pula ditambahi layanan otentikasi dua-faktor macam Google Authenticator yang seringkali ditawarkan oleh dompet berbasis web. Backup wallet juga diperlukan untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan server bermasalah atau komputer/hard disk rusak.
Risiko finansial
Risiko lain terkait Bitcoin adalah nilai mata uang ini sendiri yang terkenal sangat fluktuatif. Pada awal Januari 2013, misalnya, Bitcoin dihargai 13 dollar AS per keping (1 BTC). Angka itu meroket ke lebih dari 1.100 dollar AS per keping pada Desember tahun yang sama, lalu terpangkas menjadi hanya setengahnya (sekitar 500 dollar AS), hanya dalam beberapa jam setelah pelarangan transaksi Bitcoin di China.
Ini membuat nilai Bitcoin yang dimiliki menjadi tidak stabil dan menjadi masalah sendiri bagi pelaku bisnis yang memakai mata uang virtual tersebut. Harga barang dan nilai uang yang dibayarkan bisa naik atau turun dengan tajam dalam waktu sangat singkat sehingga berpotensi merugikan salah satu pihak yang terlibat dalam jual beli.
Tiyo Triyanto dari IBC mengatakan bahwa salah satu cara mengatasi fluktuasi harga tersebut adalah dengan memakai penyedia jasa layanan finansial Bitcoin semacam Artabit. "Pembeli, misalnya, membayar harga barang yang telah ditentukan dalam bentuk Bitcoin kepada Artabit, sisanya ditangani oleh mereka sehingga resiko bukan berada di tangan pengguna."
Dengan asumsi tidak terjadi fluktuasi berlebihan, Bitcoin menawarkan keuntungan tersendiri untuk bisnis yang memasarkan produk secara online karena hampir tak ada biaya transaksi untuk pembeli dan penjual. Begitupun untuk keperluan transfer uang yang dibuat mudah dan murah dibandingkan mata uang konvensional.
Seperti mata uang atau komoditas lain, perilaku hoarding atau penimbunan juga terjadi dengan Bitcoin. Di India dan China, misalnya, angka permintaan Bitcoin terbesar disinyalir berasal dari spekulan yang mencari untung. Tak menutup kemungkinan bahwa harga Bitcoin bisa crash apabila sejumlah besar koin virtual tersebut dilepas dalam satu waktu, terlebih dengan kondisi Bitcoin saat ini yang banyak disebut sedang mengalami bubble.
Kurang paham
Risiko lain yang tak kalah penting datang dari kalangan pengguna Bitcoin sendiri, yaitu kurangnya pemahaman mengenai sifat dan cara kerja cryptocurrency ini.
Oscar mengatakan bahwa dia menangkap gejala adanya orang yang nekat berinvestasi di Bitcoin tanpa didukung pengetahuan yang memadai. "Kami mendapat permintaan beli sejumlah Bitcoin, tapi setelah itu pembelinya mengontak dan baru bertanya apa itu Bitcoin," jelas Oscar. Dalam kasus tersebut, dia menerangkan bahwa pihaknya biasanya menolak transaksi agar tak disebut "menawarkan jalan pintas menjadi kaya".
Banyak yang mengalami kerugian karena menanam modal di Bitcoin walau sebenarnya tak memahami mata uang tersebut. "Mereka tak tahu kapan harus beli, jual, dan sebagainya. Sebelum investasi, memang mutlak mengetahui seluk-beluk investasi tersebut," kata Oscar lagi.
Bitcoin memang bisa diperoleh melalui "penambangan" atau mining. Tapi cara tersebut terbilang sangat lamban menghasilkan Bitcoin bagi kebanyakan pengguna biasa. Mereka yang ingin cepat memperoleh Bitcoin bisa langsung membeli lewat exchange sesuai kurs yang berlaku, namun ini berisiko tinggi mengingat fluktuasi nilai yang bisa sangat ekstrim.
Agar lebih aman, Oscar menyarankan investor pemula Bitcoin agar memakai uang yang memang sudah disiapkan agar expendable. "Jangan pakai uang untuk belanja, nanti pusing," katanya.
Bitcoin sendiri bukan satu-satunya cryptocurrency yang beredar di dunia. Saat ini tersedia puluhan mata uang digital sejenis yang popularitas dan nilai masing-masingnya bervariasi. Beberapa nama yang sering disebut antara lain Litecoin, Ripple, Dogecoin, dan Coinye West yang dituntut atas pelanggaran merek dagang oleh artis Hip-hop Kanye West.
Kamis, 04 September 2014
Bitcoin yang penomenal
Nama Bitcoin sedang banyak diperbincangkan di seantero dunia.
Penggunaan mata uang cryptocurrency ini telah menyebar luas, sementara kesahihannya sebagai alat pembayaran masih banyak dipertanyakan dan menuai kontroversi.
Tak terkecuali di Indonesia, di mana perkembangan Bitcoin terganjal dua persoalan, yaitu kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai mata uang digital ini, dan belum adanya peraturan resmi yang meregulasi transaksi Bitcoin.
Dua hal tersebut menjadi topik hangat diskusi dalam pertemuan komunitas Bitcoin pertama di Indonesia yang dimotori oleh Indonesian Bitcoin Community (IBC) di Jakarta, Sabtu (18/1/2013).
Aditya Suseno dari IBC mengatakan bahwa belum adanya pengakuan Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah di Indonesia berpotensi menimbulkan masalah hukum terkait dengan transaksi yang dilakukan.
"Legalitas transaksi bisa dipertanyakan ketika dilakukan dengan menggunakan Bitcoin. Misalnya saya menjual handphone ke Anda, sementara Anda membayar dengan Bitcoin, saya bisa saja mengklaim bahwa pembayaran belum dilakukan karena memang tidak menggunakan alat pembayaran yang diakui," jelas Aditya.
Adanya peraturan dan pengakuan yang jelas atas Bitcoin, lanjut Aditya, akan memperluas penggunaan mata uang ini dengan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Bitcoin.
Dia menyebutkan bahwa di Indonesia penggunaan Bitcoin masih belum memasyarakat dan relatif terhambat dengan absennya regulasi yang mengatur mata uang virtual tersebut secara eksplisit. Padahal, Bitcoin disebutnya memiliki sejumlah kelebihan yang mempermudah transaksi digital dibanding mata uang konvensional, misalnya berupa kebebasan dari biaya transfer dan kecepatan transaksi.
Bersama dengan Artabit, perusahaan rintisan yang bergerak di bidang layanan finansial menggunakan Bitcoin, Aditya pernah melayangkan surat terbuka ke Bank Indonesia, berisi uraian tentang manfaat Bitcoin yang tak terpengaruh manipulasi moneter oleh negara adidaya.
Bank Indonesia sendiri telah melakukan kajian atas pemakaian Bitcoin untuk bertransaksi, namun hingga saat ini masih belum ada laporan resmi tentang penggunaannya ke BI.
Terkait dengan persoalan transaksi, Deputi Gubernur Bank Indonesia Bidang Sistem Pembayaran Ronald Waas Kamis (16/1/2014) lalu mengutip Undang-undang Nomer 7 Tahun 2011 yang menyatakan bahwa semua transaksi di NKRI harus menggunakan mata uang rupiah.
Ronald mengungkapkan bahwa BI telah berkoordinasi dengan Kemenkominfo untuk membahas Bitcoin. Namun, karena sifat Bitcoin yang masuk ranah teknologi, Ronald mengatakan bahwa wewenang berada di tangan Kemenkominfo.
Naik turun tajam
Pertama kali diperkenalkan oleh peneliti (atau kelompok peneliti) dengan alias "Satoshi Nakamoto", Bitcoin dikembangkan sebagai mata uang digital untuk transaksi peer-to-peer. Pengelolaan Bitcoin dilakukan secara terdesentralisasi tanpa otoritas pusat. Bitcoin tak memiliki nilai intrinsik dan tidak dijamin oleh pemerintah atau institusi keuangan manapun.
Hal ini berbeda dengan mata uang konvensional, yang peredarannya ditentukan oleh otoritas, yaitu bank sentral yang bertugas menjalankan kebijakan moneter dengan cara mengatur pasokan uang yang beredar.
Bitcoin semata-mata menjadi bernilai karena dipakai oleh banyak orang. Nilai mata uang ini bergantung pada penerimaan di komunitasnya, serta besarnya angka permintaan dan jumlah pasokan yang tersedia.
Salah satu konsekuensi dari sifatnya tersebut adalah fluktuasi nilai Bitcoin yang ekstrim. Pada awal Januari 2013, misalnya, Bitcoin dihargai 13 dollar AS per keping (1 BTC). Angka itu meroket ke lebih dari 1.100 dollar AS per BTC pada Desember tahun yang sama, lalu terpangkas menjadi hanya setengahnya (sekitar 500 dollar AS), hanya dalam beberapa jam setelah pelarangan transaksi Bitcoin di China.
NIlai Bitcoin kembali naik menjadi lebih dari 1.000 dollar AS pada 7 Desember, menyusul pengumuman developer game online Zynga bahwa pihaknya sedang menguji sistem transaksi Bitcoin. Per 18 Januari 2014, nilai Bitcoin berada pada kisaran 800 dollar AS.
Volatilitas tersebut memang menjadi momok bagi Bitcoin dan menyebabkan otoritas keuangan di sejumlah negara mengambil sikap hati-hati. Selain China, India juga telah menghentikan perdagangan Bitcoin di sejumlah bursa dalam negeri. Angka permintaan Bitcoin di dua negara itu disinyalir kebanyakan berasal dari spekulan yang ingin meraih untung dengan cepat.
Di kawasan Asia Tenggara, Malaysia tak mengakui Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah, demikian pula dengan Thailand. Tetapi Singapura bersikap lebih terbuka dengan membolehkan transaksi Bitcoin, asalkan pihak-pihak yang terlibat membayar pajak ketika "Bitcoin ditukarkan ke mata uang, produk, atau jasa sungguhan".
Bitcoin diakui di Jerman sebagai "mata uang swasta", sementara penggunaanya di Amerika Serikat dan Kanada telah mulai meluas di kalangan bisnis dan perbankan. Namun, secara umum, sikap negara-negara di dunia terhadap Bitcoin masih terbelah. Nah, bagaimana dengan Indonesia?
Penggunaan mata uang cryptocurrency ini telah menyebar luas, sementara kesahihannya sebagai alat pembayaran masih banyak dipertanyakan dan menuai kontroversi.
Tak terkecuali di Indonesia, di mana perkembangan Bitcoin terganjal dua persoalan, yaitu kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai mata uang digital ini, dan belum adanya peraturan resmi yang meregulasi transaksi Bitcoin.
Dua hal tersebut menjadi topik hangat diskusi dalam pertemuan komunitas Bitcoin pertama di Indonesia yang dimotori oleh Indonesian Bitcoin Community (IBC) di Jakarta, Sabtu (18/1/2013).
Aditya Suseno dari IBC mengatakan bahwa belum adanya pengakuan Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah di Indonesia berpotensi menimbulkan masalah hukum terkait dengan transaksi yang dilakukan.
"Legalitas transaksi bisa dipertanyakan ketika dilakukan dengan menggunakan Bitcoin. Misalnya saya menjual handphone ke Anda, sementara Anda membayar dengan Bitcoin, saya bisa saja mengklaim bahwa pembayaran belum dilakukan karena memang tidak menggunakan alat pembayaran yang diakui," jelas Aditya.
Adanya peraturan dan pengakuan yang jelas atas Bitcoin, lanjut Aditya, akan memperluas penggunaan mata uang ini dengan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Bitcoin.
Dia menyebutkan bahwa di Indonesia penggunaan Bitcoin masih belum memasyarakat dan relatif terhambat dengan absennya regulasi yang mengatur mata uang virtual tersebut secara eksplisit. Padahal, Bitcoin disebutnya memiliki sejumlah kelebihan yang mempermudah transaksi digital dibanding mata uang konvensional, misalnya berupa kebebasan dari biaya transfer dan kecepatan transaksi.
Bersama dengan Artabit, perusahaan rintisan yang bergerak di bidang layanan finansial menggunakan Bitcoin, Aditya pernah melayangkan surat terbuka ke Bank Indonesia, berisi uraian tentang manfaat Bitcoin yang tak terpengaruh manipulasi moneter oleh negara adidaya.
Bank Indonesia sendiri telah melakukan kajian atas pemakaian Bitcoin untuk bertransaksi, namun hingga saat ini masih belum ada laporan resmi tentang penggunaannya ke BI.
Terkait dengan persoalan transaksi, Deputi Gubernur Bank Indonesia Bidang Sistem Pembayaran Ronald Waas Kamis (16/1/2014) lalu mengutip Undang-undang Nomer 7 Tahun 2011 yang menyatakan bahwa semua transaksi di NKRI harus menggunakan mata uang rupiah.
Ronald mengungkapkan bahwa BI telah berkoordinasi dengan Kemenkominfo untuk membahas Bitcoin. Namun, karena sifat Bitcoin yang masuk ranah teknologi, Ronald mengatakan bahwa wewenang berada di tangan Kemenkominfo.
Naik turun tajam
Pertama kali diperkenalkan oleh peneliti (atau kelompok peneliti) dengan alias "Satoshi Nakamoto", Bitcoin dikembangkan sebagai mata uang digital untuk transaksi peer-to-peer. Pengelolaan Bitcoin dilakukan secara terdesentralisasi tanpa otoritas pusat. Bitcoin tak memiliki nilai intrinsik dan tidak dijamin oleh pemerintah atau institusi keuangan manapun.
Hal ini berbeda dengan mata uang konvensional, yang peredarannya ditentukan oleh otoritas, yaitu bank sentral yang bertugas menjalankan kebijakan moneter dengan cara mengatur pasokan uang yang beredar.
Bitcoin semata-mata menjadi bernilai karena dipakai oleh banyak orang. Nilai mata uang ini bergantung pada penerimaan di komunitasnya, serta besarnya angka permintaan dan jumlah pasokan yang tersedia.
Salah satu konsekuensi dari sifatnya tersebut adalah fluktuasi nilai Bitcoin yang ekstrim. Pada awal Januari 2013, misalnya, Bitcoin dihargai 13 dollar AS per keping (1 BTC). Angka itu meroket ke lebih dari 1.100 dollar AS per BTC pada Desember tahun yang sama, lalu terpangkas menjadi hanya setengahnya (sekitar 500 dollar AS), hanya dalam beberapa jam setelah pelarangan transaksi Bitcoin di China.
NIlai Bitcoin kembali naik menjadi lebih dari 1.000 dollar AS pada 7 Desember, menyusul pengumuman developer game online Zynga bahwa pihaknya sedang menguji sistem transaksi Bitcoin. Per 18 Januari 2014, nilai Bitcoin berada pada kisaran 800 dollar AS.
Volatilitas tersebut memang menjadi momok bagi Bitcoin dan menyebabkan otoritas keuangan di sejumlah negara mengambil sikap hati-hati. Selain China, India juga telah menghentikan perdagangan Bitcoin di sejumlah bursa dalam negeri. Angka permintaan Bitcoin di dua negara itu disinyalir kebanyakan berasal dari spekulan yang ingin meraih untung dengan cepat.
Di kawasan Asia Tenggara, Malaysia tak mengakui Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah, demikian pula dengan Thailand. Tetapi Singapura bersikap lebih terbuka dengan membolehkan transaksi Bitcoin, asalkan pihak-pihak yang terlibat membayar pajak ketika "Bitcoin ditukarkan ke mata uang, produk, atau jasa sungguhan".
Bitcoin diakui di Jerman sebagai "mata uang swasta", sementara penggunaanya di Amerika Serikat dan Kanada telah mulai meluas di kalangan bisnis dan perbankan. Namun, secara umum, sikap negara-negara di dunia terhadap Bitcoin masih terbelah. Nah, bagaimana dengan Indonesia?
200.000 Bitcoin Ditemukan di "Dompet Tua"
Bursa bitcoin terbesar di dunia yang sedang mengalami kebangkrutan, Mt. Gox, mengklaim telah menemukan sekitar 200.000 bitcoin dalam sebuah akun dompet digital tua yang selama ini diduga kosong, Jumat (21/3/2014).
Dengan ditemukannya bitcoin tersebut, Mt. Gox mengatakan, pihaknya kini memegang sekitar 202.000 bitcoin. Sementara 650.000 bitcoin masih hilang.
Dalam sebuah pernyataan, CEO Mt. Gox Mark Karpeles mengatakan, angka bitcoin yang hilang itu masih dapat berubah. "Harap dicatat bahwa alasan hilangnya bitcoin dan jumlah pasti bitcoin yang hilang masih dalam penyelidikan," kata Karpeles, seperti dikutip dari The Wall Street Journal.
Pada 28 Februari 2014, Mt. Gox menutup layanan lewat situs web dan mengajukan perlindungan kebangkrutan kepada Pemerintah Jepang. Perusahaan asal Tokyo itu mengaku kehilangan total 850.000 bitcoin yang nilainya hampir 500 juta dollar AS. Dari jumlah tersebut, sebanyak 750.000 bitcoin adalah milik nasabah dan 100.000 bitcoin lainnya adalah aset perusahaan.
Karpeles mengakui, kebangkrutan itu disebabkan karena lemahnya sistem keamanan sehingga ada peretas yang masuk dalam sistem dan mencuri bitcoin.
Mt. Gox memiliki kewajiban utang sebesar 63,9 juta dollar AS, jauh melebihi total aset saat ini, yaitu 37,7 juta dollar AS. Dalam dokumen kebangkrutan Mt. Gox tercatat, ada 127.000 kreditor dan sebanyak 1.000 kreditor di antaranya berasal dari Jepang.
Mt. Gox membuka kembali akses situs webnya pada 18 Maret 2014 untuk memungkinkan pengguna melakukan log-in, melakukan verifikasi akun dompet digital, dan cek saldo.
Pemerintah Jepang dan Amerika Serikat sedang menyelidiki kebangkrutan Mt. Gox, apakah hal tersebut terkait dengan kejahatan ekonomi ataukah kejahatan siber.
Dengan ditemukannya bitcoin tersebut, Mt. Gox mengatakan, pihaknya kini memegang sekitar 202.000 bitcoin. Sementara 650.000 bitcoin masih hilang.
Dalam sebuah pernyataan, CEO Mt. Gox Mark Karpeles mengatakan, angka bitcoin yang hilang itu masih dapat berubah. "Harap dicatat bahwa alasan hilangnya bitcoin dan jumlah pasti bitcoin yang hilang masih dalam penyelidikan," kata Karpeles, seperti dikutip dari The Wall Street Journal.
Pada 28 Februari 2014, Mt. Gox menutup layanan lewat situs web dan mengajukan perlindungan kebangkrutan kepada Pemerintah Jepang. Perusahaan asal Tokyo itu mengaku kehilangan total 850.000 bitcoin yang nilainya hampir 500 juta dollar AS. Dari jumlah tersebut, sebanyak 750.000 bitcoin adalah milik nasabah dan 100.000 bitcoin lainnya adalah aset perusahaan.
Karpeles mengakui, kebangkrutan itu disebabkan karena lemahnya sistem keamanan sehingga ada peretas yang masuk dalam sistem dan mencuri bitcoin.
Mt. Gox memiliki kewajiban utang sebesar 63,9 juta dollar AS, jauh melebihi total aset saat ini, yaitu 37,7 juta dollar AS. Dalam dokumen kebangkrutan Mt. Gox tercatat, ada 127.000 kreditor dan sebanyak 1.000 kreditor di antaranya berasal dari Jepang.
Mt. Gox membuka kembali akses situs webnya pada 18 Maret 2014 untuk memungkinkan pengguna melakukan log-in, melakukan verifikasi akun dompet digital, dan cek saldo.
Pemerintah Jepang dan Amerika Serikat sedang menyelidiki kebangkrutan Mt. Gox, apakah hal tersebut terkait dengan kejahatan ekonomi ataukah kejahatan siber.
Misteri Bitcoin yang Penomenal dan Satoshi Nakamoto Penciptanya
3 Januari 2009, Satoshi Nakamoto meluncurkan 31.000 baris kode pemrograman dan mengumumkan lewat internet mata uang buatannya yang disebut Bitcoin.
Kehadiran awal Bitcoin juga ditandai oleh 50 Bitcoin pertama di dunia yang dihasilkan melalui sistem tersebut, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan "Genesis Block".
Adalah Nakamoto sendiri yang menambang "Genesis Block" itu, pada 3 Januari 2009.
Bitcoin tidak berbentuk koin, uang kertas, perak, apalagi emas. Ia tidak terlihat secara riil. Ia hanya mata uang digital.
Nakamoto dikenal sebagai pencipta Bitcoin. Mata uang yang sepenuhnya dikendalikan oleh perangkat lunak. Setiap sepuluh menit atau lebih, Bitcoin akan didistribusikan pada mereka yang melakukan "penambangan".
Awalnya, Bitcoin populer di kalangan kriptografer, yaitu mereka yang berkecimpung dalam penelitian penyandian (kriptografi). Tak heran, kriptografi adalah pondasi tempat Bitcoin berdiri.
Di masa awalnya, Nakamoto pun aktif di komunitas kriptografer. Ia dilaporkan cukup rajin membalas postingan di berbagai forum kriptografi.
Nakamoto sempat bersuara cukup keras, saat Wikileaks hendak memanfaatkan Bitcoin untuk menerima sumbangan. Ketika itu, Nakamoto memprotes rencana itu. Menurutnya Bitcoin belum siap untuk perhatian sebesar itu.
"Proyek ini butuh tumbuh perlahan agar peranti lunaknya bisa diperkuat sambil jalan. Saya mengajukan pada Wikileaks, tolong jangan gunakan bitcoin. Bitcoin adalah komunitas beta yang masih balita. Anda tak akan mendapatkan (donasi melalui bitcoin) lebih dari recehan saja, tapi dampak yang Anda bawa bisa menghancurkan kami," tulis Nakamoto pada 5 Desember 2010.
Namun seiring waktu, mata uang digital milik Nakamoto itu makin banyak dilirik untuk transaksi digital. Popularitasnya perlahan menanjak hingga menarik perhatian kalangan yang lebih luas.
Nilai Bitcoin pun meningkat. Pada saat pertama kali diluncurkan, satu Bitcoin hanya bernilai kurang dari 1 dollar AS. Tapi pada pertengahan Desember 2013, satu Bitcoin berada pada kisaran 710 dollar AS.
Ke Mana Nakamoto?
Di balik kisah sukses mata uang digital ini, Nakamoto ternyata memilih meninggalkan Bitcoin. Pada 12 Desember 2010, sekitar tujuh hari setelah menyampaikan pendapatnya ke Wikileaks, Nakamoto menuliskan pesan terakhir di forum.
Tentunya, ketika itu tak ada yang mengira hal itu jadi postingan terakhir Nakamoto. Ia masih cukup rutin, walau semakin jarang, membalas email penggiat Bitcoin.
Ketika itu, pimpinan pengembangan Bitcoin dipegang oleh Gavin Andresen. Pengembang yang satu ini awalnya terkenal dengan situs Bitcoin Faucet (keran bitcoin) yang bertujuan membagi-bagikan 10.000 bitcoin secara gratis.
Andresen menjadi satu-satunya yang masih bisa berkomunikasi via email dengan Satoshi Nakamoto. Pada 26 April 2011, Andresen menyampaikan pesan dari sang pendiri.
"Pagi ini Satoshi menyarankan bahwa saya, dan kita (komunitas bitcoin), harus mulai untuk tidak membesar-besarkan soal keberadaan 'pendiri yang misterius' saat berbicara ke publik mengenai bitcoin," tulis Andresen.
Pada April 2011, kepada rekan-rekannya, Nakamoto pun mengirim pesan bahwa ia "telah pindah mengerjakan hal-hal lain".
Sejak saat itu, nama Nakamoto menghilang dan tidak terlacak. Upaya untuk menghubunginya yang dilakukan oleh para penggiat Bitcoin pun tak menuai hasil.
Sempat muncul spekulasi bahwa Satoshi sebenarnya adalah peneliti kriptografi terkemuka. Beberapa nama pun sempat "dicalonkan" sebagai identitas asli pria itu, namun tak ada satupun yang mengaku.
Ada yang pernah menyebutkan, bahwa Satoshi Nakamoto hanyalah nama samaran yang diambil dari nama perusahaan teknologi Samsung, Toshiba, Nakamichi dan Motorola.
Diduga, karena Bahasa Inggris-nya yang sangat baik, Satoshi bahkan bukan berasal dari Jepang. Bahkan, ia disebut bukan hanya satu orang.
Salah satu teori yang cukup banyak diterima adalah bahwa Satoshi Nakamoto sebenarnya mewakili sebuah tim. Bitcoin disebut memiliki rancangan yang sangat baik sehingga tampaknya tak mungkin dibuat oleh satu orang saja.
Siapakah Satoshi Nakamoto sebenarnya? Tampaknya, hal itu jadi pertanyaan yang tak perlu diburu jawabannya. Hal yang lebih penting adalah melihat hasil karyanya, dan bagaimana hal itu bisa berpengaruh pada masyarakat saat ini.
Kehadiran awal Bitcoin juga ditandai oleh 50 Bitcoin pertama di dunia yang dihasilkan melalui sistem tersebut, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan "Genesis Block".
Adalah Nakamoto sendiri yang menambang "Genesis Block" itu, pada 3 Januari 2009.
Bitcoin tidak berbentuk koin, uang kertas, perak, apalagi emas. Ia tidak terlihat secara riil. Ia hanya mata uang digital.
Nakamoto dikenal sebagai pencipta Bitcoin. Mata uang yang sepenuhnya dikendalikan oleh perangkat lunak. Setiap sepuluh menit atau lebih, Bitcoin akan didistribusikan pada mereka yang melakukan "penambangan".
Awalnya, Bitcoin populer di kalangan kriptografer, yaitu mereka yang berkecimpung dalam penelitian penyandian (kriptografi). Tak heran, kriptografi adalah pondasi tempat Bitcoin berdiri.
Di masa awalnya, Nakamoto pun aktif di komunitas kriptografer. Ia dilaporkan cukup rajin membalas postingan di berbagai forum kriptografi.
Nakamoto sempat bersuara cukup keras, saat Wikileaks hendak memanfaatkan Bitcoin untuk menerima sumbangan. Ketika itu, Nakamoto memprotes rencana itu. Menurutnya Bitcoin belum siap untuk perhatian sebesar itu.
"Proyek ini butuh tumbuh perlahan agar peranti lunaknya bisa diperkuat sambil jalan. Saya mengajukan pada Wikileaks, tolong jangan gunakan bitcoin. Bitcoin adalah komunitas beta yang masih balita. Anda tak akan mendapatkan (donasi melalui bitcoin) lebih dari recehan saja, tapi dampak yang Anda bawa bisa menghancurkan kami," tulis Nakamoto pada 5 Desember 2010.
Namun seiring waktu, mata uang digital milik Nakamoto itu makin banyak dilirik untuk transaksi digital. Popularitasnya perlahan menanjak hingga menarik perhatian kalangan yang lebih luas.
Nilai Bitcoin pun meningkat. Pada saat pertama kali diluncurkan, satu Bitcoin hanya bernilai kurang dari 1 dollar AS. Tapi pada pertengahan Desember 2013, satu Bitcoin berada pada kisaran 710 dollar AS.
Ke Mana Nakamoto?
Di balik kisah sukses mata uang digital ini, Nakamoto ternyata memilih meninggalkan Bitcoin. Pada 12 Desember 2010, sekitar tujuh hari setelah menyampaikan pendapatnya ke Wikileaks, Nakamoto menuliskan pesan terakhir di forum.
Tentunya, ketika itu tak ada yang mengira hal itu jadi postingan terakhir Nakamoto. Ia masih cukup rutin, walau semakin jarang, membalas email penggiat Bitcoin.
Ketika itu, pimpinan pengembangan Bitcoin dipegang oleh Gavin Andresen. Pengembang yang satu ini awalnya terkenal dengan situs Bitcoin Faucet (keran bitcoin) yang bertujuan membagi-bagikan 10.000 bitcoin secara gratis.
Andresen menjadi satu-satunya yang masih bisa berkomunikasi via email dengan Satoshi Nakamoto. Pada 26 April 2011, Andresen menyampaikan pesan dari sang pendiri.
"Pagi ini Satoshi menyarankan bahwa saya, dan kita (komunitas bitcoin), harus mulai untuk tidak membesar-besarkan soal keberadaan 'pendiri yang misterius' saat berbicara ke publik mengenai bitcoin," tulis Andresen.
Pada April 2011, kepada rekan-rekannya, Nakamoto pun mengirim pesan bahwa ia "telah pindah mengerjakan hal-hal lain".
Sejak saat itu, nama Nakamoto menghilang dan tidak terlacak. Upaya untuk menghubunginya yang dilakukan oleh para penggiat Bitcoin pun tak menuai hasil.
Sempat muncul spekulasi bahwa Satoshi sebenarnya adalah peneliti kriptografi terkemuka. Beberapa nama pun sempat "dicalonkan" sebagai identitas asli pria itu, namun tak ada satupun yang mengaku.
Ada yang pernah menyebutkan, bahwa Satoshi Nakamoto hanyalah nama samaran yang diambil dari nama perusahaan teknologi Samsung, Toshiba, Nakamichi dan Motorola.
Diduga, karena Bahasa Inggris-nya yang sangat baik, Satoshi bahkan bukan berasal dari Jepang. Bahkan, ia disebut bukan hanya satu orang.
Salah satu teori yang cukup banyak diterima adalah bahwa Satoshi Nakamoto sebenarnya mewakili sebuah tim. Bitcoin disebut memiliki rancangan yang sangat baik sehingga tampaknya tak mungkin dibuat oleh satu orang saja.
Siapakah Satoshi Nakamoto sebenarnya? Tampaknya, hal itu jadi pertanyaan yang tak perlu diburu jawabannya. Hal yang lebih penting adalah melihat hasil karyanya, dan bagaimana hal itu bisa berpengaruh pada masyarakat saat ini.
Satoshi Nakamoto Pencipta Bitcoin
Nama Satoshi Nakamoto selama ini terkesan misterius.
Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya dirinya. Namun, harian Newsweekpada Kamis (6/3/2014) mengklaim bahwa pihaknya telah bertemu langsung dengan Satoshi Nakamoto, pendiri Bitcoin tersebut. Sebelumnya, di tengah komunitas Bitcoin, banyak yang mengatakan bahwa nama Satoshi Nakamoto adalah nama samaran. Ada pula yang mengatakan bahwa Satoshi Nakamoto adalah nama sebuah kelompok, yang artinya terdapat lebih dari satu orang.
Namun, dalam laporan yang berjudul "The Face Behind Bitcoin" yang diterbitkan Newsweek, Satoshi Nakamoto disebut sebagai nama asli seorang keturunan Jepang berkewarganegaraan Amerika Serikat yang saat ini berumur 64 tahun dan tinggal di California.
Jurnalis Newsweek, Leah McGrath Goodman, yang membuat laporan tersebut, mengaku telah melakukan riset dengan mewawancarai para developer yang bekerja bersama Nakamoto pada masa-masa awal dibentuknya Bitcoin.
Selain itu, Goodman juga mengaku telah melakukan riset kependudukan, analis forensik, dan bahkan berbicara dengan keluarga Nakamoto langsung.
Walau pada awalnya keluarga Nakamoto tidak percaya, deskripsi dan cerita Goodman sesuai dengan karakter Satoshi Nakamoto yang dimaksud, yaitu pendiri Bitcoin.
Nakamoto dikenal sebagai sosok yang pintar dan nampaknya memiliki keahlian yang sesuai sebagai ahli kriptografi. Ia adalah seorang sarjana Fisika lulusan Califronia State Polythecnic University. Ia juga diketahui bekerja di bidang keamanan dan komunikasi untuk lembaga Federal Aviation Administration (FAA).
Nakamoto sendiri memilih untuk bungkam dan berupaya kabur saat mengetahui ada jurnalis yang ingin mewawancarainya. Kepada Goodman, Nakamoto hanya berujar, "Saya tak lagi terlibat di dalamnya (Bitcoin), dan saya tak ingin membahasnya."
Selain itu, Nakamoto juga mengatakan bahwa urusan Bitcoin sudah diserahkan ke orang lain, dan dirinya sudah tidak memiliki hubungan apa-apa.
Nakamoto, memilih untuk meninggalkan Bitcoin. Pada April 2011, kepada rekan-rekannya di Bitcoin, Nakamoto pun mengirim pesan bahwa ia "telah pindah mengerjakan hal-hal lain".
Sejak saat itu, nama Nakamoto menghilang dan tidak terlacak. Upaya untuk menghubunginya yang dilakukan oleh para penggiat Bitcoin pun tak menuai hasil.
Kontroversial
Kini, laporan dari Newsweek tersebut menuai banyak kontroversi, terutama di dalam komunitas Bitcoin sendiri, terlebih saat foto Nakamoto, rumah, dan alamatnya dipublikasikan Newsweek (belakangan diturunkan).
Publikasi tersebut dianggap melanggar privasi Nakamoto.
Satoshi Nakamoto yang ditemui Newsweek memang belum dipastikan sepenuhnya sebagai pendiri Bitcoin, walau petunjuk-petunjuk yang diungkap kuat mengarah ke sana. Dikutip dari BBC, Kamis (6/3/2014), komunitas Bitcoin juga mempertanyakan metode yang digunakan Newsweek dalam melacak identitas Nakamoto.
Di forum Bitcoin dan media sosial, para penggiat Bitcoin mengungkapkan keraguannya tentang laporan Goodman. Laporan tersebut dianggap palsu oleh beberapa komentator di forum Bitcoin Talk. Mereka juga meminta bukti transaksi Bitcoin yang dimiliki Nakamoto jika benar bahwa pria yang dimaksud Goodman adalah pendiri Bitcoin.
Bitcoin muncul pada 2008 saat Nakamoto mengungkapkan idenya di media online tentang mata uang digital. Jenis mata uang ini kemudian mendapat banyak perhatian pada 2013 sehingga nilainya menguat. Pada pertengahan Desember 2013, satu Bitcoin berada pada kisaran 710 dollar AS.
Namun, belakangan, mata uang ini mengalami keterpurukan seiring dengan masalah kebangkrutan di beberapa bursa Bitcoin besar di dunia.
Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya dirinya. Namun, harian Newsweekpada Kamis (6/3/2014) mengklaim bahwa pihaknya telah bertemu langsung dengan Satoshi Nakamoto, pendiri Bitcoin tersebut. Sebelumnya, di tengah komunitas Bitcoin, banyak yang mengatakan bahwa nama Satoshi Nakamoto adalah nama samaran. Ada pula yang mengatakan bahwa Satoshi Nakamoto adalah nama sebuah kelompok, yang artinya terdapat lebih dari satu orang.
Namun, dalam laporan yang berjudul "The Face Behind Bitcoin" yang diterbitkan Newsweek, Satoshi Nakamoto disebut sebagai nama asli seorang keturunan Jepang berkewarganegaraan Amerika Serikat yang saat ini berumur 64 tahun dan tinggal di California.
Jurnalis Newsweek, Leah McGrath Goodman, yang membuat laporan tersebut, mengaku telah melakukan riset dengan mewawancarai para developer yang bekerja bersama Nakamoto pada masa-masa awal dibentuknya Bitcoin.
Selain itu, Goodman juga mengaku telah melakukan riset kependudukan, analis forensik, dan bahkan berbicara dengan keluarga Nakamoto langsung.
Walau pada awalnya keluarga Nakamoto tidak percaya, deskripsi dan cerita Goodman sesuai dengan karakter Satoshi Nakamoto yang dimaksud, yaitu pendiri Bitcoin.
Nakamoto dikenal sebagai sosok yang pintar dan nampaknya memiliki keahlian yang sesuai sebagai ahli kriptografi. Ia adalah seorang sarjana Fisika lulusan Califronia State Polythecnic University. Ia juga diketahui bekerja di bidang keamanan dan komunikasi untuk lembaga Federal Aviation Administration (FAA).
Nakamoto sendiri memilih untuk bungkam dan berupaya kabur saat mengetahui ada jurnalis yang ingin mewawancarainya. Kepada Goodman, Nakamoto hanya berujar, "Saya tak lagi terlibat di dalamnya (Bitcoin), dan saya tak ingin membahasnya."
Selain itu, Nakamoto juga mengatakan bahwa urusan Bitcoin sudah diserahkan ke orang lain, dan dirinya sudah tidak memiliki hubungan apa-apa.
Nakamoto, memilih untuk meninggalkan Bitcoin. Pada April 2011, kepada rekan-rekannya di Bitcoin, Nakamoto pun mengirim pesan bahwa ia "telah pindah mengerjakan hal-hal lain".
Sejak saat itu, nama Nakamoto menghilang dan tidak terlacak. Upaya untuk menghubunginya yang dilakukan oleh para penggiat Bitcoin pun tak menuai hasil.
Kontroversial
Kini, laporan dari Newsweek tersebut menuai banyak kontroversi, terutama di dalam komunitas Bitcoin sendiri, terlebih saat foto Nakamoto, rumah, dan alamatnya dipublikasikan Newsweek (belakangan diturunkan).
Publikasi tersebut dianggap melanggar privasi Nakamoto.
Satoshi Nakamoto yang ditemui Newsweek memang belum dipastikan sepenuhnya sebagai pendiri Bitcoin, walau petunjuk-petunjuk yang diungkap kuat mengarah ke sana. Dikutip dari BBC, Kamis (6/3/2014), komunitas Bitcoin juga mempertanyakan metode yang digunakan Newsweek dalam melacak identitas Nakamoto.
Di forum Bitcoin dan media sosial, para penggiat Bitcoin mengungkapkan keraguannya tentang laporan Goodman. Laporan tersebut dianggap palsu oleh beberapa komentator di forum Bitcoin Talk. Mereka juga meminta bukti transaksi Bitcoin yang dimiliki Nakamoto jika benar bahwa pria yang dimaksud Goodman adalah pendiri Bitcoin.
Bitcoin muncul pada 2008 saat Nakamoto mengungkapkan idenya di media online tentang mata uang digital. Jenis mata uang ini kemudian mendapat banyak perhatian pada 2013 sehingga nilainya menguat. Pada pertengahan Desember 2013, satu Bitcoin berada pada kisaran 710 dollar AS.
Namun, belakangan, mata uang ini mengalami keterpurukan seiring dengan masalah kebangkrutan di beberapa bursa Bitcoin besar di dunia.
Serangan Oleh Malware Untuk Bitcoin Semakin Populer
Penelitian ‘financial cyber threats in 2013’ yang dilakukan Kaspersky Lab, menunjukkan malware keuangan yang menyasar Bitcoin semakin populer di tahun 2013. Jumlah serangan yang menyasar crypto-currency ini naik lebih dari 2,5 kali dan totalnya mencapai 8,3 juta insiden.
“Selama 2013, nilai Bitcoin naik lebih dari 85 kali dan hal ini tentu saja menarik perhatian para penjahat cyber. Sampai dengan akhir tahun 2013, jumlah pengguna yang diserang dengan malware yang menyasar Bitcoin mulai menyusul jumlah pengguna yang diserang oleh ancaman perbankan cyber yang lebih konvensional," ujar Sergey Lozhkin, Senior Security Researcher, Kaspersky Lab, dalam rilis yang diterima Tempo, Kamis, 17 April 2014.
Para pemilik crypto-currency harus ekstra hati-hati karena uang yang dicuri hampir mustahil bisa kembali. Menurut Sergey, ini adalah risiko yang harus dihadapi para pengguna crypto-currency seperti Bitcoin yang peredarannya tidak dikontrol oleh pemerintah manapun. (Baca: Warren Buffet: Bitcoin Selesai 10 Tahun Lagi)
Bitcoin diciptakan terutama untuk melakukan pembayaran elektronik secara anonim dan penggunaannya semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Pada awal 2013, nilai tukar Bitcoin mencapai US$ 13,6 (sekitar Rp 155 ribu). Pada Desember tahun lalu, nilai tukarnya mencapai rekor tertinggi dengan mencapai lebih dari US$ 1.200 (sekitar Rp 13 juta lebih).
Meski terjadi beberapa kali penurunan nilai tukar sepanjang tahun lalu, namun sejak April 2013 harga sebuah koin virtual tidak pernah kurang dari US$ 80 (sekitar Rp 900 ribu lebih). Hal ini tentu menarik perhatian para penipu (fraudster). Faktanya, Bitcoin sering menjadi bahan incaran para penjahat cyber. Jika pengguna menyimpan Bitcoin di komputer mereka dalam bentuk tak terenkripsi, para penjahat hanya perlu mencuri file 'wallet' untuk mengambil informasi mengenai koin di dalam 'wallet' tersebut kemudian mengakses akun korban.
Untuk penelitian ini Kaspersky Lab memilih lebih dari 30 sampel malware yang terkait dengan keuangan. Sembilan dari malware ini adalah program yang didesain untuk mencuri Bitcoin. Kesembilan malware ini merepresentasikan 29 persen dari seluruh serangan cyber keuangan yang dilakukan melalui aplikasi berbahaya.
Tools yang digunakan oleh penjahat cyber untuk mencuri Bitcoin bisa dibagi menjadi dua kategori. Kategori pertama mencakup program-program yang diciptakan untuk mencuri file 'wallet'. Kategori kedua mencakup aplikasi-aplikasi yang didesain untuk menginstal perangkat lunak yang menghasilkan Bitcoin (mining) dari komputer yang terinfeksi.
Secara total pencuri ‘wallet’ Bitcoin melakukan serangan dua kali lipat lebih banyak pada 2013. Namun, tools untuk ‘mining’ dikembangkan secara lebih cepat.
“Selama 2013, nilai Bitcoin naik lebih dari 85 kali dan hal ini tentu saja menarik perhatian para penjahat cyber. Sampai dengan akhir tahun 2013, jumlah pengguna yang diserang dengan malware yang menyasar Bitcoin mulai menyusul jumlah pengguna yang diserang oleh ancaman perbankan cyber yang lebih konvensional," ujar Sergey Lozhkin, Senior Security Researcher, Kaspersky Lab, dalam rilis yang diterima Tempo, Kamis, 17 April 2014.
Para pemilik crypto-currency harus ekstra hati-hati karena uang yang dicuri hampir mustahil bisa kembali. Menurut Sergey, ini adalah risiko yang harus dihadapi para pengguna crypto-currency seperti Bitcoin yang peredarannya tidak dikontrol oleh pemerintah manapun. (Baca: Warren Buffet: Bitcoin Selesai 10 Tahun Lagi)
Bitcoin diciptakan terutama untuk melakukan pembayaran elektronik secara anonim dan penggunaannya semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Pada awal 2013, nilai tukar Bitcoin mencapai US$ 13,6 (sekitar Rp 155 ribu). Pada Desember tahun lalu, nilai tukarnya mencapai rekor tertinggi dengan mencapai lebih dari US$ 1.200 (sekitar Rp 13 juta lebih).
Meski terjadi beberapa kali penurunan nilai tukar sepanjang tahun lalu, namun sejak April 2013 harga sebuah koin virtual tidak pernah kurang dari US$ 80 (sekitar Rp 900 ribu lebih). Hal ini tentu menarik perhatian para penipu (fraudster). Faktanya, Bitcoin sering menjadi bahan incaran para penjahat cyber. Jika pengguna menyimpan Bitcoin di komputer mereka dalam bentuk tak terenkripsi, para penjahat hanya perlu mencuri file 'wallet' untuk mengambil informasi mengenai koin di dalam 'wallet' tersebut kemudian mengakses akun korban.
Untuk penelitian ini Kaspersky Lab memilih lebih dari 30 sampel malware yang terkait dengan keuangan. Sembilan dari malware ini adalah program yang didesain untuk mencuri Bitcoin. Kesembilan malware ini merepresentasikan 29 persen dari seluruh serangan cyber keuangan yang dilakukan melalui aplikasi berbahaya.
Tools yang digunakan oleh penjahat cyber untuk mencuri Bitcoin bisa dibagi menjadi dua kategori. Kategori pertama mencakup program-program yang diciptakan untuk mencuri file 'wallet'. Kategori kedua mencakup aplikasi-aplikasi yang didesain untuk menginstal perangkat lunak yang menghasilkan Bitcoin (mining) dari komputer yang terinfeksi.
Secara total pencuri ‘wallet’ Bitcoin melakukan serangan dua kali lipat lebih banyak pada 2013. Namun, tools untuk ‘mining’ dikembangkan secara lebih cepat.
Bitcoin Jamin Tidak Ada Uang Hilang.
Tutupnya salah satu bursa Bitcoin, Mt.Gox memicu kekalutan di antara pengguna dan pedagang mata uang digital tersebut. Penutupan ini dipicu oleh beredarnya sebuah dokumen yang menyebut, bursa Mt.Gox telah diserang hacker dan mengakibatkan hilangnya uang sebesar 744.408 Bitcoin atau setara dengan US$ 390 juta.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Mt.Gox menyatakan menutup semua transaksi untuk sementara waktu. “Ini untuk melindungi situs dan pengguna kami ," seperti dilansir Bloomberg, 26 Februari 2014.
Meskipun salah satu bursa terbesarnya ditutup sementara, Bitcoin Foundation menyatakan ini bukan akhir dari Bitcoin. Mereka meyakinkan para pengguna Bitcoin bahwa dana mereka tidak hilang karena pencurian atau salah urus. “Sebagai industri kami sudah matang, kami akan bertanggung jawab untuk membangun layanan yang handal untuk ekosistem ini,” dalam pernyataan resmi mereka.
Upaya Bitcoin untuk menenangkan pasar tersebut tidak sepenuhnya berhasil. Sejumlah pedagang dan pengguna Bitcoin berkumpul di luar kantor Mt. Gox di pusat kota Tokyo, menanyakan nasib uang Bitcoin milik mereka. Mereka membawa poster bertulisan "Where Are My Bitcoins?". Kolin Burges, seorang pedagang dari London tidak percaya bahwa ia akan kehilangan uangnya. “Saya siap dengan situasi yang terburuk,” ujarnya.
Penutupan bursa Mt.Gox tersebut memicu turunnya harga Bitcoin lebih dari 13 persen Selasa kemarin, dari sebelumnya yang setara dengan US$524,91.
BitCoin sendiri masih mempunyai enam bursa perdagangan digital lainnya, antara lain Coinbase dan BTC China. Menurut mereka, apa yang terjadi di Mt.Gox adalah permasalahan internal di bursa tersebut dan tidak menyangkut sistem Bitcoin secara keseluruhan. “Ini tidak akan menggoyahkan Bitcoin,” kata mereka dalam sebuah pernyataan.
Kalangan otoritas keuangan tidak terlalu cemas dengan penutupan bursa Bitcoin ini. Hal ini dianggap sebagai tahapan untuk lebih mematangkan sistem perdagangan mata uang digital tersebut. Hal ini diungkapkan oleh regulator keuangan di New York Amerika, Benjamin M. Lawsky. "Ini kesempatan baik untuk mematangkan dan secara perlahan mengatur sistem bisnis ini, " kata Benjamin.
Dalam sebuah pertemuan Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas baru-baru ini, yang juga memasukkan Bitcoin dalam agenda pembicaraan, menyepakati pengaturan bursa mata uang digital ini.
Regulator keuangan di sejumlah negara dalam beberapa bulan juga mulai mencermati dan mengawasi perkembangan Bitcoin. Ada beberapa pendangan yang berbeda dalam menanggapi kemunculan Bitcoin. Rusia melarang sama sekali keberadaan Bitcoin, sedangkan Jerman melihatnya sebagai sebuah teknologi baru.
Bitcoin dirancang sebagai sebuah teknologi yang memungkinkan pengguna untuk memindahkan uang di seluruh dunia tanpa menggunakan perantara, sehingga ini akan menurunkan biaya transaksi keuangan. Sebenarnya, bukan baru kali ini saja,bursa Mt.Gox menutup perdagangan, setahun lalu, bursa ini juga menghentikan sementara transaksi untuk beberapa jam.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Mt.Gox menyatakan menutup semua transaksi untuk sementara waktu. “Ini untuk melindungi situs dan pengguna kami ," seperti dilansir Bloomberg, 26 Februari 2014.
Meskipun salah satu bursa terbesarnya ditutup sementara, Bitcoin Foundation menyatakan ini bukan akhir dari Bitcoin. Mereka meyakinkan para pengguna Bitcoin bahwa dana mereka tidak hilang karena pencurian atau salah urus. “Sebagai industri kami sudah matang, kami akan bertanggung jawab untuk membangun layanan yang handal untuk ekosistem ini,” dalam pernyataan resmi mereka.
Upaya Bitcoin untuk menenangkan pasar tersebut tidak sepenuhnya berhasil. Sejumlah pedagang dan pengguna Bitcoin berkumpul di luar kantor Mt. Gox di pusat kota Tokyo, menanyakan nasib uang Bitcoin milik mereka. Mereka membawa poster bertulisan "Where Are My Bitcoins?". Kolin Burges, seorang pedagang dari London tidak percaya bahwa ia akan kehilangan uangnya. “Saya siap dengan situasi yang terburuk,” ujarnya.
Penutupan bursa Mt.Gox tersebut memicu turunnya harga Bitcoin lebih dari 13 persen Selasa kemarin, dari sebelumnya yang setara dengan US$524,91.
BitCoin sendiri masih mempunyai enam bursa perdagangan digital lainnya, antara lain Coinbase dan BTC China. Menurut mereka, apa yang terjadi di Mt.Gox adalah permasalahan internal di bursa tersebut dan tidak menyangkut sistem Bitcoin secara keseluruhan. “Ini tidak akan menggoyahkan Bitcoin,” kata mereka dalam sebuah pernyataan.
Kalangan otoritas keuangan tidak terlalu cemas dengan penutupan bursa Bitcoin ini. Hal ini dianggap sebagai tahapan untuk lebih mematangkan sistem perdagangan mata uang digital tersebut. Hal ini diungkapkan oleh regulator keuangan di New York Amerika, Benjamin M. Lawsky. "Ini kesempatan baik untuk mematangkan dan secara perlahan mengatur sistem bisnis ini, " kata Benjamin.
Dalam sebuah pertemuan Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas baru-baru ini, yang juga memasukkan Bitcoin dalam agenda pembicaraan, menyepakati pengaturan bursa mata uang digital ini.
Regulator keuangan di sejumlah negara dalam beberapa bulan juga mulai mencermati dan mengawasi perkembangan Bitcoin. Ada beberapa pendangan yang berbeda dalam menanggapi kemunculan Bitcoin. Rusia melarang sama sekali keberadaan Bitcoin, sedangkan Jerman melihatnya sebagai sebuah teknologi baru.
Bitcoin dirancang sebagai sebuah teknologi yang memungkinkan pengguna untuk memindahkan uang di seluruh dunia tanpa menggunakan perantara, sehingga ini akan menurunkan biaya transaksi keuangan. Sebenarnya, bukan baru kali ini saja,bursa Mt.Gox menutup perdagangan, setahun lalu, bursa ini juga menghentikan sementara transaksi untuk beberapa jam.
Cara Memperoleh Wallet Address di PT.Bitcoin Indonesia
Di Artikel ini saya ingin kasih tips Agar Bitcoin Yang anda kumpulkan bisa langsung
di tukar ke dalam Rupiah tanpa dua kali transfer .
Bitcoin yang anda kumpulkan akan langsung masuk wallet anda di Indonesia , jadi bitcoin anda tidak parkir dulu di Bank Virtual Luar negri , Karena di indonesia pun sudah tersedia .
Anda bisa Gunakan wallet Deposit ini untuk menerima pendaptaran pembayaran bitcoin dari luar negri . Saya sendiri sudah pakai pasilitas ini dan sangat mudah saat mrnjualnya menjadi rupiah dan langsung masuk ke rekening kita di bank seperti BCA dll ...
Untuk Mendapatkan Wallet Deposit tentunya anda harus buka account
seperti layaknya membuka Rekening anda di bank, jangan
khawatir ini 100% gratis dan tidak ada biaya bulanan . Namun anda harus gunakan nama yang anda daptarkan sesuai KTP dan tentunya Nama yang anda daptarkan Harus sesuai dengan Nama yang anda daptarkan di Bank untuk terima transfer hasil penjualan Bitcoin .
Cara pendaptaran silahkan lihat caranya di bawah ini :
1. Silahkan anda buka website PT.Bitcoin Indonesia KLIK DISINI
akan terbuka di browser baru tampilan gambar seperti di bawah ini :
![]() |
| SILAHKAN KLIK MENU DAPTAR AKUN |
Silahkan anda Klik :
DAPTAR ACCOUNT DAN PASTIKAN
UP LINE ANDA ADALAH >> pengusahaonline
2. Isi semua data Asli sesuai KTP agar saat transaksi transfer ke bank
tidak bermasalah alias lancar. lihat gambar :

PASTIKAN UP LINE ANDA ADALAH >> pengusahaonline
PASTIKAN FASWORD ANDA SULIT DI TEBAK DAN SIMPAN OLEH ANDA BAIK-BAIK.
NANTI BIASANYA ANDA AKAN DIKIRIMI EMAIL CONFIRMASI.
SETELAH ANDA SUKSES BUKA ACCOUNT TERUS LOG IN .
NAH JIKA ANDA MAU AMBIL WALLET DEPOSIT ADDRESS ANDA
KLIK MENU DEPOSIT ANDA TINGGAL PILIH ANDA BISA DEPOSIT RUPIAH ATAU DEPOSIT BITCOIN.
BERHUBUNG WALLET ADDRESS INI UNTUK TERIMA BAYARAN DARI LUAR NEGRI SONO
ANDA TENTUNYA KLIK MENU DEPOSIT BITCOIN LIHAT GAMBAR :

Nah di situ ada Alamat Wallet Bitcoin anda khusus dari PT.Bitcoin Indonesia yah semacam Rekening gitu ...Itu anda copy dan silahkan Gunakan untuk menerima bayaran dari website Lottery, Faucet atau Bet atau untuk terima bayaran hasil affiliasi , Jadi saat ada pembayaran Bitcoin langsung masuk ke saldo Anda di Deposit Website PT.Bitcoin Indonesia . jika anda mau tarik atau tukar ke rupiah anda tinggal klik menu PENARIKAN RUPIAH ..
lihat gambar :

Anda isi Total Bitcoin yang ingin anda tukar kerupiah lalu Pilih Bank untuk terima hasil penjualan Bitcoin dan tentunya Nama di Rekening Harus sama dengan nama Account anda di website ini .untuk batas tarik dan kirim lihat gambar termasuk biaya Fee .
OK jadi dengan cara ini anda haya satu kali kena Fee .
anda akan hemat 0.0001 BTC .
Jadi Untuk kumpulkan bitcoin gunakan saja wallet Deposit yang di sediakan
PT.Bitcoin Indonesia
Semoga Tips ini Bermamfaat .
BAGI ANDA YANG INGIN KASIH DONASI
SILAHKAN KIRIM KE WALLET ADDRESS DI BAWAH INI :

16TYuJx2Vxm6AdPPDRUCgQByntCJAdHAdc
Langganan:
Postingan (Atom)
